buah kesabaran itu ranum ternyata, ,:)


Assalamu'alaikum wr. wb

Jgan p'nah b'mimpi untk dpat menikmati manisx anggur itu sblum kau tanam bibitnya.
ia bahkan msh perlu ksbaranmu untuk dapat membantunya terus tumbuh dengan baik.
Dan slama masa2 pnantian itu bergulir, rasakan dan nikmatilah.
Yang nantix ia akan membrikanmu kpuasan, rasa banga, dan kbhagiaan trsendiri yang tak terkira bagimu.
Manakala bibit2 yang dulu kau tanam dan kau rawat dengan penuh kesabaran, rasa kash sayang, dan rasa penantian itu kini telah berubah menjadi buah-buah anggur yg begitu ranum dan manisnya.
Dan saat itu, rasakanlah.
Nikmat itu. Ranum dan manis anggur itu kini telah kau miliki.
Dan bersyukurlah pada Rabbmu atas sgala karunia-Nya atas dirimu.
Dan resapi serta renungkanlah, bahwa Tuhanmu tak kan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-hamba-Nya yang mau berusaha. Siapapun ia dan bagaimanapun ia


:: Siti Khadijah Nur Maryam::
kandangan, 25 Februari 2010 :: 14:58 wita ::

untitled setengah jadi, :P


Mentari belum lagi tampakkan sinarnya. Ia bahkan mungkin belum juga menggeser sang rembulan yang kini msih bertengger sempurna d tengah gelapnya langit malam menjelang pagi itu.

Sementara itu, Syaza, seorang gadis kecil yg kini mulai beranjak dewasa itu masih saja termenung d sudut kamarnya.
Jam dinding hanya mampu berdetak dan berdetak, menunjukkan waktu itu masih pukul 03.45 wita.
Samar terdengar, bibir kecilnya berujar lirih,"Alhamdulillah" rasa syukur terucap atas nikmat hidup dan kehidupan yang masih diberikan oleh-Nya, sang Maha Pemberi Nikmat pada dirinya.
Diam. Terpaku. Ia bahkan masih terasa sulit untuk membuka mata.
Suasana hening masih menyergapnya. Tak ada suara yang terdengar kecuali suara merdu dari binatang-binatang malam yang tersisa, subuh itu.

Ya, ! Dia masih berusaha mengumpulkan segenap kekuatannya untuk bangun, ahh, ! Hari ini ada ujian tulis yang harus ia hadapi.
Pikirannya kini melayang, menerawang jauh. Sampai pada akhirnya sebuah handphone miliknya yang terletak tak jauh dari tempat d mana ia berbaring sekarang bergetar, tanda sms masuk.
"Ada seseorang yang mengirim pesan padaku rupanya," gumam Syaza.

Dicobanya tuk raih handphone itu dan menerka apa sebenarnya isi pesan tersebut.

"1 pesan dterima dari Ka Khansa"

Begitu text yang tertera di layar handphone itu, saat itu.
Terang saja, menerima sms di subuh buta seperti ini jelas membuat dahi Syaza mengeryit penuh keheranan. Tapi, sejurus kemudian senyumnya tersimpul bahagia.

"wake up, ! Wake up, ! yuk, ! Curhat ma Allah, !!"
Untuk kedua kalinya rasa syukur itu terujar lirih. Lirih terdengar namun dalam dirasa.
Betapa bersyukurnya Syaza ia dikaruniai Allah seorang saudari yang mampu mengingatinya untuk dapat terus mengingat-Nya.
Subhanallah.
"Semoga ukhuwah ini akan terus terjalin dlam kcintaan kpada Allah semata demi dapatkan segala ridha dan rahmat-Nya."Doa Syaza dalam hati.

Dan kekuatan itu datang. Iapun beranjak menuju bagian belakang rumahnya untuk mengambil air wudhu.
:::::::::::::::::::::::::


~Waw, ! Senangnya, dapet siraman air subuh-subuh (eh, ! Tapi, ini mah jauh lebih dasyat dari siraman air yah, ??) hhihi^^

~jazakillah bwt kaka, buat smua saudari-saudariku yang udah nularin semangat-semangatnya kepada diri ini, semoga dengan segera diri ini mampu menyusul dan bergabung bersama kalian. Soon. Insya Allah, !! Amiin.
Semoga Allah merahmati kita smua~
Salam hangat dariku, saudarimu,
_Siti Khadijah Nur Maryam_


:: Kandangan, 21 februari 2010 :: 15.50 wita ::

sebuah pengharapan dari diri yang dhaif

D tengah remang sang rembulan
Sang bintang menyapa di kejauhan
Mlam kini mengganti siang
Hari kini berlalu sudah
Jalan ini memang panjang
Adakah mampu sang asa kini mengukir rasa, ?
Gelap malam menyergapku dalam sunyi
Dan kini
Hanya ada aku dan Rabbku
Jalan panjang ini akan segera kutapaki
Dan memang akan harus segera untuk ku menapakinya
Selongsong harapan menantiku di kejauhan
Setitik chaya terpantul jelas di ujung sana,
Menjadi penyemangat jiwa, penguat raga
Ukhuwah terjalin dalam kuatnya akidah pembgun persaudaraan, pmersatu ummat,
Yang Dibangun atas dasar cinta lillahita'ala
Duhai Allah
Rabbul izzati
Duhai Allah
Yang maha membolak balikkan hati
Tetapilah diri ini untuk terus di jalan-Mu
Hingga nanti, saat aku kan kembali.
Amiiiin >.<

~Siti Khadijah Nur Maryam~
Kandangan, 19 februari 2010
:: 19:06 wita ::

Keknya musti ganti "kaca mata" deh. .

Awalx Q pikir dengan ak b'pandangan seperti mereka, ak akan menjadi seorg yg bisa mengurangi rasa cuek yg kumiliki.
Awalx Q pikir kalau ak bs mengganti kacamata putihku ini dgan kacamata puth lain yg tak seputih ini, ak dapat melihat sisi lain dari seseorang.
Awalx ak pkir memang harus aku lakukan itu, ?

Tp kmudian ak t'diam dan b'fikir. Kenapa ak harus mrubh sikapku, ? Knapa ak hrus mgubah kaca mataku, ?

Sjurus kmudian, alasan2 mulai hilir mudik d ats kpalaku, ,ku coba tuk pilih salah satu, ato mgkin 2, 3, atau berapalah yg mungkin menrutku tepat.
Kuambil dulu satu, kubaca dan kufahami.

Kmbli t'diam. "Bnarkah ak egois, ? Jawab bnar jk itu bnar, !" Triakku pada hatiku sendiri. Kmudian t'dgar lirih dari dalam , "benar"
Kuraskan tubuhku lemas. Ingin ak membantahnya, tp apakah p'nah nurani itu b'dusta, ? Apakah mampu sang nurani tuk b'kta tdak d atas kbnaran, ? Kurasa tidak. Dan benar-benar tidak kini.

Dlam diamnya ksendirian, pikiranku mlayang jauh k belakang. Kejadian2 masa lalu t'putar kembali kini. Hingga akhrnya, tak mampu kutahan ketika mulut ini b'ucp lirih.
"Yah, ! Aku memang egois."

Kusmpan satu dalam saku, yg kmudian menuntunku menemukan alsan berikutnya, alasan kdua. Entah bagaimana bentuk pasti alasan itu, hingga ak hrus b'susah payah dahulu untk membukanya.

Setlah skian lama akhirx.
Dan lagi2 ak t'tegun membcanya.
Terawalkan dgan huruf "C" dan terakhri dgan huruf "K"
Hey, !! Bgitukah diriku, ?
Ingin ak b'tanya kembali pada nuraniku, tp akhirnya ak urung. Karena kutau ia tak kan b'dusta hanya tuk buatku senang sesaat.
Bayanganku mlayang dan t'henti d dpan keluargaku, tman tmanku, dan orang2 yg dlu d sekelilingku.
Waw, ! Btapa hinanya diriku, betapa dhaifx diriku.
Tak terasa kini, air mataku mulai meleleh, mengalir dari kedua kelopak bening mataku, membasahi kdua pipiku.

Mash b'diri, kmudian ak b'sandar. Kuhadapkan wajahku ke arah langit2 ruangan. Kosong memang. Tp, entah mengapa justru keksongan itu yg kmudian dapat membantuku menemukan akar masalahku.
"Mengapakah aku begini, ?" tanyaku lirih.
Ada apakah gerangan dgan diriku, hngga ak tega b'buat dmikian t'hadap mereka, ?
Entahlah,
Langit2 ruangan memang ksong. Kekosongan yg justru t'kdang dpt membriku jwbn atas smuax.
Kosongnya merka, tak sepenuhx kosg menurutku.
2 alasan kini d tgan sudah. Entahlah, !
Apa tanganku ni mash sanggup tuk mengamblx lagi atau tdak, ?

Lama.
Hingga akhrnya kuputuskan tuk mengambilnya satu lg.
Kembali dengan susah payah, ak coba untuk membukanya.
Susah.
Kmudian untk yg kesekian kalix ak kembali t'sentak, namun, untuk kali ini, ak hanya t'diam beribu bahasa, seakan meng-iyakan dalam hati.

Huft, , nafasku t'hmbus pasrah dari mulutku.
"Aku memang malas sih, !" Omelku dalam hati.

Tp, sbgitu malasnya kah diriku hingga masuk dalam 3 bsar ni, ?
Entahlah. Tapi nuraniku cukup tuk berikan alasan bagiku.

Cukuppp, !
Cukup sudah smuax, !!
Aku bahkan kini tak sanggup lg untuk b'diri.
B'diri untuk melangkah p'gi.
Hey, !! Tp k mana, ?
Lagi2 cuma t'degar erangan kecil dari mulut kecilku.
Hati ini kini t'lalu lemah untuk kau ajak b'jalan.
Pikran ini telah t'lalu lelah untk kau mintai tuk pimpin p'jalananmu.

Sudah, !
Kni hanya ada aku dan diriku, tak ada siapa siapa.
Gelap, ,mataku bhkan tak mampu lg untk kubuka.
Gelap, ! Gelap smuax, !

Beberapa detik kemudian, kurasakan diriku lemas, dan setelah itu, ,
Entah apa yg t'jadi padaku setelah itu.

Hitam, smuanya menjadi hitam kala itu.




Kandangan, 07 September 09 ::: 06:40

*dgan sdkt p'bhan*

Kandangan, 17 November 2009 ::: 05:10 WITA :::
.:. Maryam .:.

Mengapa kita masih bisa hidup, tegar mengarungi cobaan sampai sekarang, ?
Mengapa kita masih bisa berada di sini sampai saat ini, ?

Yup, ! Semua adalah karena karunia Allah swt kepada kita, di mana itu berarti Allah masih memberikan kesempatan buat kita untuk berbenah diri, introspeksi diri, dan yang pasti Allah masih memberikan kesempatan buat kita untuk bertobat, karena sebelum nafas berada di tenggorokan, berarti Allah masih menerima taubat dari hamba-hambaNya.

Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruh belum sampai tenggorokan." HR: Ahmad 3/1532, 1330, at-Tirmidzi: 3537, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib 3/218/3143 dan al-Misykaat: 2449, 2343).

Selain itu juga, hal ini berarti Allah masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup segar udaraNya, menjelajahi luas indah duniaNya, juga mentafakkuri hidup juga kehidupan. Bahkan oleh Allah, kitapun dapat merasakan nikmat bahagianya kesuksesan.

Berbicara mengenai kesuksesan, banyak orang yang berpendapat bahwa kesuksesan diri itu tergantung dari diri kita sendiri, yang artinya diri kita jualah yang pada akhirnya akan menjadi penentu apakah kita mau sukses apa tidak, apakah kita akan berhasil atau tidak.

Namun, ada satu hal yang perlu kita cermati, yaitu bahwa hakikat manusia sebagai makhluk social, yang berarti manusia tidak akan pernah mampu untuk dapat berdiri sendiri tanpa adanya campur tangan lingkungan sekitar (konteks kali ini adalah teman). Bukan menyalahkan pendapat di atas, hal itu memang benar adanya, keberhasilan kita memang ada di tangan kita, bukan di tangan teman kita, orang tua kita, guru kita, atau bahkan tetangga kita mungkin, tapi semuanya ada pada diri kita sendiri. Akan tetapi, hal itu tidak menjadikan kita kemudian lantas mengatakan bahwa kita tidak butuh teman, dan bukan teman, bukan orangtua, bukan pula guru kita yang telah menjadikan kita sukses, karena hakikat manusia adalah makhluk social.

Sehingga, yang kini akan menjadi pertanyaan adalah seberapa besar pengaruh teman/orang-orang di lingkungan kita terhadap keberhasilan kita.

Dari Abu Musa ra katanya: Nabi saw bersabda: perbandingan berkawan dengan orang baik dan orang jahat adalah seumpama berkawan dengan orang yang membawa minyak kasturi atau dengan tukang tiup dapur tukang besi; bersahabat dengan yang membawa minyak harum kadang-kadang anda diberinya /memberinya/mencium bau harum, sebaliknya yang bersahabat dengan tukang tiup dapur tukang besi kadang-kadang terbakar kainnya/mencium bau yang bsuk” (SHAHIH MUSLIM cetakan ke-III)

Dari hadist tersebut dijelaskan bahwa teman sangat berpengaruh bagi diri kita, apabila kita ingin menjadi orang yang baik, maka bertemanlah dengan orang-orang yan baik, begitupun sebaliknya. Akan berbeda hasilnya jika kita berteman dengan orang yang suka hura-hura dengan orang yang suka pergi ke masjid.

Namun, sebagai manusia yang dikaruniai akal oleh Allah swt, kita tentu bisa membedakan yang mana yang baik, yang mana yang tidak, dan tentunya dari keduanya, kita akan memilih yang baik. Ada satu alasan lain mengapa kita sebaiknya memilih teman-teman yang baik, yaitu bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa manusia itu akan terhitung ke dalam kelompok yang ia cintai. Dalam hadist yang lain, Rasulullahpun pernah bersabda bahwa kelak di hari kiamat manusia akan bersama dengan siapa yang mereka cintai.

Jadi, permasalahan memilih teman bukanlah permasalahan yang terbilang sepele. Karena teman juga dapat dikatakan sebagai penentu diri kita ke depannya. Kita yang sekarang akan tetap sama dengan kita di lima tahun mendatang kecuali 2 yang mempengaruhi, yaitu buku yang kita baca dan orang-orang di sekitar kita.

Sebelum berteman, pikirkanlah: untuk apa kita berteman dan apa orientasi pertemanan kita itu. Jangan pernah berharap untuk mendapatkan teman yang baik jikalau kita sendiri tidak pernah introspeksi diri kita sendiri, tapi walau begitu, jangan pernah berhenti untuk terus mencoba memberikan yang terbaik buat mereka.



Kandangan, 01 September 2009 ::: 16:50:33



di sini aku, ,

Y Allah jagalah hati hambamu ni, ,
Kini q b'diri t'paku

Bgitu rapuh
Bgitu goyah
Hingga t'sntak
Akan sesuatu
Yg ntah apa ak dapat menyebutnya
Menyergapku, ,
Tak p'nah kusadari
Akan kdtgannya
Hilang
Pergi
Datang
Kembali
Ntah apa pula mksudnya
PadaMu Y Rabb
Ku b'munajat
Dlam ramai sepinya dunia
Hiruk pikuknya hatiku, ,
Kuatkan hatiku, ,
Kutau blum saatx untk dtang ia menghampiriku, ,

Di sini, ,
Aku yg mash merangkak jg meraba akan dunia, ,
Y Allah, ,kuatkan hatiku ,
Dan biarkan ia datang,
Nanti, ,pada saatx jika ia tiba.

kerapuhan jiwa

Bukan ak yg mginginkanx tuk datang, ,
Bukan ak pula yg mengundangx untk hadir dlam p'jamuan hatiku , ,
Ak bhkan tak p'nah mgharapkanx hadir untk saat ni,
Saat hatiku mash dliputi kelabilan, ,
Saat hatiku mash blum mampu tuk mengatakan tidak pada abu abu, ,

Bahkan
Saat kakikupun blum mampu tuk b'jalan ato bhkan b'lari d atas tali itu, ,


Entah sjak kpan ia dtang, ,
Entah mgapa ia harus dtang, ,

Mengusikq, ,
Ahh, !
Tak p'nh q hendki ia dtg pdaku , stidaknya untk saat ni, d tgah kelabilan jiwaku

Haruskah q acuhkan, ?
Atau bhkan membuangx, ?
Dgan cara apakah q dpt lakukan itu, ?

Y Rabb, ,
Tlong pliharakanlah hati hambaMu ini, ,

Biarkan ia datang, ,
Nanti, ,
Saat jiwa dan hati ni benar2 matang untk ia singgahi